Jumat, 20 Oktober 2023

 

Rindu Kezuhudan Seorang Guru

Oleh Saepudin

Judul yang dihaturkan bukan semata membahas tasawuf yang mungkin pernah didengar atau bahkan sering ditemui kata-kata zuhud. Jangan dulu terbayang suatu sosok seorang yang berpakaian serba putih, mungkin berjanggut atau bahkan memakai terumpah dengan hiasan surban di kepalanya. Penulis hanya akan membahas sikap yang paling inti yang ada pada seseorang yang berjiwa zuhud.

Zuhud dirasakan harus bahkan wajib hadir di dunia pendidikan yang penuh dengan tantangan keduniawian yang dikhawatirkan menggerogoti makna agung dari mendidik. Roh mendidik seakan melayang merambah ke dunia atas hingga mencapai langit sehingga sulit kembali membumi. Pendidikan yang kehilangan roh laksana sebuah upacara persembahan yang entah kepada siapa persembahan itu dilaksanakan, untuk siapa persembahan itu manfaatnya dan apa yang diperoleh dari persembahan tersebut.

Agar persembahan itu berguna, bermanfaat, kontekstual dan seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, ruh mendidik itu harus disertai ruh zuhud.

Zuhud menurut Ibnu Taimiyah, beliau  mengatakan “zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat (Madarij as-Salikin,2/10). Dalam al-Qur’an surat al-Hadid ayat 23 “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang tidak kamu dapatkan, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. Imam al-Junaid dalam memahami ayat ini berpendapat orang yang zuhud tidak menjadi bangga karena memiliki dunia dan tidak menjadi sedih karena kehilangan dunia (Madarij as-Salikin,2/10).

Kezuhudan seorang guru mutlak diperlukan, mengingat seorang guru figur bukan hanya bagi murid-muridnya namun juga untuk masyarakat. Guru yang zuhud akan memberikan pengaruh positif terhadap murid-muridnya. Guru yang zuhud akan penuh kekhidmatan dalam menjalankan tugasnya. Guru yang zuhud memberikan dampak baik yang signifikan terhadap kepercayaan masyarakat akan dirinya.

Jejak langkah orang-orang zuhud terdahulu telah banyak menancapkan kebaikan yang diteladani oleh generasi sesudahnya. Hal demikian juga diharapkan menjadi gambaran dari guru-guru yang ada saat ini. Walaupun dengan situasi dan kondisi alam yang berbeda, namun semangat zuhud orang-orang terdahulu diharapkan menjadi teladan para guru saat ini.

Kebutuhan atau keperluan yang dialami guru-guru saat ini memang beragam. Disatu sisi tenaga mereka sangat diperlukan oleh murid-muridnya dan di sisi lain mereka juga mempunyai tanggungjawab dalam kehidupan berumah tangga, baik sebagai isteri atau suami terhadap anak-anak mereka.

Alangkah indahnya jika guru mempunyai sifat zuhud. Walaupun mereka sibuk dengan berbagai masalah di rumah, namun tetap fokus terhadap kewajiban di sekolah. Guru yang zuhud akan membimbing murid-muridnya dengan penuh keikhlasan. Apa saja yang dihasilkan dari seorang guru yang zuhud tentu kebaikan bagi para anak didiknya. Sudah barang tentu bimbingan dan kasih sayang seorang guru sangat dinanti oleh peserta didik.

Penulis adalah Guru PAI dan Budi Pekerti SDN Cicalengka 08       

 

   

BODATA PENULIS

NAMA                                   : SAEPUDIN, S.Pd.I, M.Pd.I

TTL                                         : BANDUNG 23-12-1975

ALAMAT                               : MARIUK, BOJONGSALAM RANCAEKEK BANDUNG

UNIT KERJA                         : SDN CICALENGKA 08     KAB. BANDUNG

PENDIDIKAN                      : S-1       IAI IBRAHIMY SUKOREJO SITUBONDO JATIM

                                                S-2          UNINUS BANDUNG

ALUMNI PONPES             : TARBIYATUN NASYIIN JOMBANG JATIM

    MA’HAD ALY PONPES SALAFIYAH SYAFIIYAH SUKOREJO SITUBONDO JATIM

NO REK                                 : 7055466356  (BANK SYARIAH MANDIRI)

 

 

Milad PGRI

Oleh : Saepudin

PGRI yang lahir seratus hari setelah kemerdekaan merupakan wadah profesi organisasi guru se-Indonesia. Tidak dipungkiri PGRI adalah sebuah organisais besar. Kelompok yang hadir sebagai manifestasi dari rasa optimisme setelah kemerdekaan Republik ini. Guru yang merupakan salah satu kelompok penggerak kemerdekaan berkontribusi besar dalam kemerdekaan ini.

Guru tidak bias dipisahkan dengan sekolah. Dimana ada sekolah mesti di sana ada guru. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mempunyai guru yang baik pula. Sekolah yang sukses adalah sekolah yang selalu didampingi oleh para guru yang penuh tanggungjawab. Sekolah yang dicintai para alumninya adalah sekolah yang mempunyai para guru yang berdedikasi tinggi. Sekolah yang menjadi tujuan para orangtua siswa adalah sekolah yang di dalamnya ada guru-guru yang mencurahkan segenap ilmu dan akhlaknya demi siswa-siswinya.

Terbentuknya PGRI tak lepas dari idaman para pendirinya agar guru punya wadah yang mampu memperhatikan nasib guru dan bermuara pada nasib para anak didik bangsa ini. Dengan jiwa kemerdekaan yang ada pada dada-dada para pendiri kelompok ini maka lahirlah organisasi PGRI.

Awal berdiri persatuan guru terjadi tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Setelah itu bermunculan organisasi yang lain seperti Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD) Persatuan Guru Ambach School (PGAS) dan organisasi guru yang lain. Pada tahun 1932 nama PGHB diubah menjadi Presatuan Guru Indonesia (PGI).  Pada Kongres Guru Indonesia 24-25 Nopember 1945 di Surakarta Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan tepat tanggal 25 Nopember 1945. Sampai sekarang diperingati sebagai Hari Guru.  

Yang penulis soroti adalah gerak langkah organisasi yang besar ini. Mulai dari Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI). Lalu ada pengurus wilayah yang membawahi tiap-tiap propinsi, ada PGRI Kabupaten/Kota, lalu ada pengurus cabang yang membawahi tiap-tiap kecamatanm bahkan ada PGRI ranting. Semua mempunyai aturan main yang berlandaskan tentu kepada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) organisasi ini.

Itikad baik para pengurus organisasi ini dalam melaksanakan roda perjalanan sangat dinanti oleh para anggotanya. Berbagai macam perhatian dan prestasi telah direngkuh oleh PGRI. Lahirnya UU Guru dan Dosen adalah salah satu dari sekian banyak prestasi yang ditorehkan oleh PGRI. Sehingga adanya perhatian terhadap nasib para guru dengan adanya sertifikasi guru professional.

Dari segudang perhatian dan prestasi PGRI memang tidak bias dipungkiri pula banyak masalah yang belum terselesaikan oeh PGRI. Masih banyaknya guru-guru honor yang penghasilannya jauh di bawah guru PNS. Masih ada guru-guru yang terlibat ke meja hijau karena perlakuan yang kurang manusiawi terhadap anak didik. Ditemukan pula dibeberapa daerah guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya karena minimnya tenaga pengajar yang relevan. Masih ada juga guru yang tidak memahami kode etik guru. Dan permasalahan lain yang berhubungan dengan guru di dunia pendidikan.

Namun kita patut acungi jempol terhadap organisasi PGRI ini –walaupun dengan segala kritik dan mungkin cemoohan- yang berjuang tanpa henti demi pendidikan di Negara tercinta ini, Tak ada gading yang tak retak. Selamat Hari Guru ! Bravo PGRI !       

Penulis adalah Guru PAI dan Budi Pekerti SDN Cicalengka 08      

 

   

BODATA PENULIS

NAMA                                   : SAEPUDIN, S.Pd.I, M.Pd.I

TTL                                         : BANDUNG 23-12-1975

ALAMAT                               : MARIUK, BOJONGSALAM RANCAEKEK BANDUNG

UNIT KERJA                         : SDN CICALENGKA 08     KAB. BANDUNG

PENDIDIKAN                      : S-1       IAI IBRAHIMY SUKOREJO SITUBONDO JATIM

                                                S-2          UNINUS BANDUNG

ALUMNI PONPES             : TARBIYATUN NASYIIN JOMBANG JATIM

    MA’HAD ALY PONPES SALAFIYAH SYAFIIYAH SUKOREJO SITUBONDO JATIM

NO REK                                 : 0074045537100  (BANK BJB)