Penangkal Azab
Abu Hurairah bertanya, Siapakah mereka itu?
Terangkan dan jelaskan padaku hingga aku dapat mengenalinya. Wahai Rasulallah
kemukakan padaku amalan mereka.
Rasulallah menjawab, “Wahai Abu Hurairah,
Kaum itu menempuh jalan yang terjal hingga sampai tingkatan para nabi. Mereka
memilih lapar setelah Allah memberikan pada
mereka rasa kenyang. Memilih bersahaja setelah Allah memberikan pada
mereka pakaian, dan memilih haus setelah Allah memberi mereka rasa puas. Mereka
meninggalkan itu semua karena mengharap apa yang ada di sisi Allah. Mereka
meninggalkan yang halal karena takut dihisab. Mereka bergaul dengan badan-badan
(lahir) mereka, tetapi tidak menyibukkan diri dengan suatu apapun darinya. Para
nabi dan malaikat takjub dengan ketaatan mereka, kebahagiaan bagi mereka,
kebahagiaan mereka. Aku ingin agar Allah mengumpulkan aku bersama mereka”.
Kemudian Nabi Muhammad SAW menangis karena
rindu pada mereka. Lalu beliau berkata, “Jika Allah hendak hendak mengazab
penghuni bumi, lalu memandang mereka, maka di aberpaling dan tidak jadi
menurunkan azab. Hendaklah engkau, wahai Abu Hurairah mengikuti jalan mereka. Barang
siapa berpaling dari jalan mereka, maka ia akan kelelahan dalam kerasnya hisab.
“(Ibn al-Arabi, 2007)
Dalam hal ini terdapat prasyarat agar
menjadi umat yang dicintai Nabi dan dijaga oleh Allah. Pertama, harus menjaga
batas-batas syari’at Allah. Rela dengan yang halal dan bersih darinya berupa
harta sekadar untuk menguatkan sulbinya. Menyipati dunia dengan mencampur yang
halalnya dengan proporsional dan yang haramnya dengan hukuman. Yang halalnya
mendatangkan azab.
Oleh karena itu slogan nyeleneh
“mendapatkan yang haram saja sulit apalagi yang halal” tidak berlaku padanya.
Makan, minum, berpakaian dan bergaul, bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan
klebutuhan fisik. Akan tetapi, juga berkaitan dengan iman dan ibadah serta
pengendalian diri seorang muslim.
Bahwa agar manusia berhati-hati dalam
mencari dan menikmati karunia-Nya, mewaspadai jebakan ujub dan sifat
berlebih-lebihan. Apalagi menghalalkan segala cara yang akan mengundang azab
Allah.
Kedua, memohon keselamatan di tengah dunia
yang penuh fitnah (ujian) dan bersifat fana. Apa pun yang dimiliki,
sewaktu-waktu Allah dapat mencabutnya dengan seketika. Cukuplah segala azab umat
terdahulu serta bencana yang yang menimpa menjadi pengingat. Harta
benda,jabatan, hingga nyawa, begitu mudah dan cepat Allah pergilirkan. Saat
itu, bersandar kepada Allah Yang Maha Penyelamat adalah satu-satunya pilihan.
Ketiga,mendamba kebahagiaan di sisi Allah
Yang Maha Kaya,sebagai jawaban dari tabiat manusia yang penuh keluh dan kesah
terutama perihal harta dan takhta. Padahal permintaan sebanyak apapun yang
Allah kabulkan untuk seluruh manusia tidak lain yaitu sangat sedikit. Tak
ubahnya seperti jarum yang dicelupkan ke
dalam lautan, lalu menempel air di jarum tersebut. Sementara di sisi Allah
masih ada kekayaan seluas lautan (HR. Muslim dan Ahmad). Dengan demikian,
kenikmatan dunia yang sedikit itu tidak menjadi prioritas. Obsesinya adalah
kenikmatan surge yang maha luas.Inilah sikap mengerdilkan dunia yang tampak
besar dan memesonakan, maka ia mulia, kenyang dan puas.
Semoga di tengah zaman yang penuh fitnah
ini kita tergolong umat penyelamat dengan amalan tersebut. Menjadi penangkal
atas azab yang hendak Allah timpakan di dunia dan pengundang diringankannya
hisab diakhirat. Wallahu’alambissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar