Jumat, 20 Oktober 2023

 

Penangkal Azab

Abu Hurairah bertanya, Siapakah mereka itu? Terangkan dan jelaskan padaku hingga aku dapat mengenalinya. Wahai Rasulallah kemukakan padaku amalan mereka.

Rasulallah menjawab, “Wahai Abu Hurairah, Kaum itu menempuh jalan yang terjal hingga sampai tingkatan para nabi. Mereka memilih lapar setelah Allah memberikan pada  mereka rasa kenyang. Memilih bersahaja setelah Allah memberikan pada mereka pakaian, dan memilih haus setelah Allah memberi mereka rasa puas. Mereka meninggalkan itu semua karena mengharap apa yang ada di sisi Allah. Mereka meninggalkan yang halal karena takut dihisab. Mereka bergaul dengan badan-badan (lahir) mereka, tetapi tidak menyibukkan diri dengan suatu apapun darinya. Para nabi dan malaikat takjub dengan ketaatan mereka, kebahagiaan bagi mereka, kebahagiaan mereka. Aku ingin agar Allah mengumpulkan aku bersama mereka”.

Kemudian Nabi Muhammad SAW menangis karena rindu pada mereka. Lalu beliau berkata, “Jika Allah hendak hendak mengazab penghuni bumi, lalu memandang mereka, maka di aberpaling dan tidak jadi menurunkan azab. Hendaklah engkau, wahai Abu Hurairah mengikuti jalan mereka. Barang siapa berpaling dari jalan mereka, maka ia akan kelelahan dalam kerasnya hisab. “(Ibn al-Arabi, 2007)

Dalam hal ini terdapat prasyarat agar menjadi umat yang dicintai Nabi dan dijaga oleh Allah. Pertama, harus menjaga batas-batas syari’at Allah. Rela dengan yang halal dan bersih darinya berupa harta sekadar untuk menguatkan sulbinya. Menyipati dunia dengan mencampur yang halalnya dengan proporsional dan yang haramnya dengan hukuman. Yang halalnya mendatangkan azab.

Oleh karena itu slogan nyeleneh “mendapatkan yang haram saja sulit apalagi yang halal” tidak berlaku padanya. Makan, minum, berpakaian dan bergaul, bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan klebutuhan fisik. Akan tetapi, juga berkaitan dengan iman dan ibadah serta pengendalian diri seorang muslim.      

Bahwa agar manusia berhati-hati dalam mencari dan menikmati karunia-Nya, mewaspadai jebakan ujub dan sifat berlebih-lebihan. Apalagi menghalalkan segala cara yang akan mengundang azab Allah.

Kedua, memohon keselamatan di tengah dunia yang penuh fitnah (ujian) dan bersifat fana. Apa pun yang dimiliki, sewaktu-waktu Allah dapat mencabutnya dengan seketika. Cukuplah segala azab umat terdahulu serta bencana yang yang menimpa menjadi pengingat. Harta benda,jabatan, hingga nyawa, begitu mudah dan cepat Allah pergilirkan. Saat itu, bersandar kepada Allah Yang Maha Penyelamat adalah satu-satunya pilihan.

Ketiga,mendamba kebahagiaan di sisi Allah Yang Maha Kaya,sebagai jawaban dari tabiat manusia yang penuh keluh dan kesah terutama perihal harta dan takhta. Padahal permintaan sebanyak apapun yang Allah kabulkan untuk seluruh manusia tidak lain yaitu sangat sedikit. Tak ubahnya seperti  jarum yang dicelupkan ke dalam lautan, lalu menempel air di jarum tersebut. Sementara di sisi Allah masih ada kekayaan seluas lautan (HR. Muslim dan Ahmad). Dengan demikian, kenikmatan dunia yang sedikit itu tidak menjadi prioritas. Obsesinya adalah kenikmatan surge yang maha luas.Inilah sikap mengerdilkan dunia yang tampak besar dan memesonakan, maka ia mulia, kenyang dan puas.

Semoga di tengah zaman yang penuh fitnah ini kita tergolong umat penyelamat dengan amalan tersebut. Menjadi penangkal atas azab yang hendak Allah timpakan di dunia dan pengundang diringankannya hisab diakhirat. Wallahu’alambissawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar