Rindu
Kezuhudan Seorang Guru
Oleh
Saepudin
Judul yang dihaturkan bukan semata membahas
tasawuf yang mungkin pernah didengar atau bahkan sering ditemui kata-kata
zuhud. Jangan dulu terbayang suatu sosok seorang yang berpakaian serba putih,
mungkin berjanggut atau bahkan memakai terumpah dengan hiasan surban di
kepalanya. Penulis hanya akan membahas sikap yang paling inti yang ada pada
seseorang yang berjiwa zuhud.
Zuhud dirasakan harus bahkan wajib hadir di
dunia pendidikan yang penuh dengan tantangan keduniawian yang dikhawatirkan
menggerogoti makna agung dari mendidik. Roh mendidik seakan melayang merambah
ke dunia atas hingga mencapai langit sehingga sulit kembali membumi. Pendidikan
yang kehilangan roh laksana sebuah upacara persembahan yang entah kepada siapa
persembahan itu dilaksanakan, untuk siapa persembahan itu manfaatnya dan apa
yang diperoleh dari persembahan tersebut.
Agar persembahan itu berguna, bermanfaat, kontekstual
dan seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, ruh mendidik itu harus
disertai ruh zuhud.
Zuhud menurut Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan “zuhud adalah meninggalkan sesuatu
yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat (Madarij as-Salikin,2/10). Dalam
al-Qur’an surat al-Hadid ayat 23 “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu
jangan bersedih terhadap apa yang tidak kamu dapatkan, dan supaya kamu jangan
terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. Imam al-Junaid dalam
memahami ayat ini berpendapat orang yang zuhud tidak menjadi bangga karena
memiliki dunia dan tidak menjadi sedih karena kehilangan dunia (Madarij
as-Salikin,2/10).
Kezuhudan seorang guru mutlak diperlukan,
mengingat seorang guru figur bukan hanya bagi murid-muridnya namun juga untuk
masyarakat. Guru yang zuhud akan memberikan pengaruh positif terhadap
murid-muridnya. Guru yang zuhud akan penuh kekhidmatan dalam menjalankan
tugasnya. Guru yang zuhud memberikan dampak baik yang signifikan terhadap
kepercayaan masyarakat akan dirinya.
Jejak langkah orang-orang zuhud terdahulu
telah banyak menancapkan kebaikan yang diteladani oleh generasi sesudahnya. Hal
demikian juga diharapkan menjadi gambaran dari guru-guru yang ada saat ini.
Walaupun dengan situasi dan kondisi alam yang berbeda, namun semangat zuhud
orang-orang terdahulu diharapkan menjadi teladan para guru saat ini.
Kebutuhan atau keperluan yang dialami
guru-guru saat ini memang beragam. Disatu sisi tenaga mereka sangat diperlukan
oleh murid-muridnya dan di sisi lain mereka juga mempunyai tanggungjawab dalam
kehidupan berumah tangga, baik sebagai isteri atau suami terhadap anak-anak
mereka.
Alangkah indahnya jika guru mempunyai sifat
zuhud. Walaupun mereka sibuk dengan berbagai masalah di rumah, namun tetap fokus
terhadap kewajiban di sekolah. Guru yang zuhud akan membimbing murid-muridnya
dengan penuh keikhlasan. Apa saja yang dihasilkan dari seorang guru yang zuhud
tentu kebaikan bagi para anak didiknya. Sudah barang tentu bimbingan dan kasih
sayang seorang guru sangat dinanti oleh peserta didik.
Penulis adalah Guru PAI dan Budi Pekerti
SDN Cicalengka 08
BODATA
PENULIS
NAMA :
SAEPUDIN, S.Pd.I, M.Pd.I
TTL :
BANDUNG 23-12-1975
ALAMAT :
MARIUK, BOJONGSALAM RANCAEKEK BANDUNG
UNIT KERJA :
SDN CICALENGKA 08 KAB. BANDUNG
PENDIDIKAN :
S-1 IAI IBRAHIMY SUKOREJO SITUBONDO
JATIM
S-2
UNINUS BANDUNG
ALUMNI PONPES : TARBIYATUN NASYIIN JOMBANG JATIM
MA’HAD ALY PONPES
SALAFIYAH SYAFIIYAH SUKOREJO SITUBONDO JATIM
NO REK :
7055466356 (BANK SYARIAH MANDIRI)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar