Hati Bersemayam di Tiga Tempat
Sesungguhnya dalam jasad manusia ada
segumpal daging, jika baik segumpal daging itu maka akan baiklah seluruh jasad
manusia itu,namun jika segumpal daging itu rusak maka akan rusaklah seluruh
jasad manusia itu,ingatlah segumpal darah itulah hati. (Hadits Ibnu Majah
No.976)
Dalamnya lautan dapat diukur dalamnya
hati tak ada yang tahu. Muslimin dan muslimat seringkali hati kita ini merasa
sakit tapi kita tidak tahu,sakit apa yang dialami oleh hati kita ini. Sakit
yang tak ada ujung dan tak ada pangkal.
Perut kita setiap hari kita kasih
makanan,baik yang bergizi maupun yang kurang bergizi, jangankan daging sampai
seblak, bakso ,lotek bahkan rujak kita juga kasih sama perut kita.
Sehingga kebutuhan perut ini selalu
terpenuhi mungkin bahkan over, karena memang sangat perhatiannya kita terhadap
kebutuhan perut ini. Kita selalu memperhatikan perut mungkin wajar,karena
ketika perut kosong ada reaksi dari dalam perut yang sangat terasa yakni rasa
lapar. Semua orang pasti merasakan ketika perut kosong akan merasakan lapar.
Berbeda dengan hati kita. Mungkin
banyak yang belum tahu bahwa hati juga perlu makan. Namun banyak orang yang
belum sadar apakah benar hati itu perlu makanan. Kalau memang perlu apa makanan
hati itu ?. Sebongkah pertanyaan pun terus mengalir.
Kita tahu betapa pentingnya hati
jika melihat hadits nabi diatas. Seseorang memang baik atau tidaknya tergantung
dari hati yang dimiliki oleh orang itu. Jika hatinya baik maka baiklah ia dan kelakuannya
namun sebaliknya.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
berkata :”carilah hatimu di tiga tempat ini ; di saat engkau mendengarkan
al-Qur’an, di saat engkau berada di majlis dzikir (majlis ilmu) dan di saat
engkau menyendiri bermunajat kepada Allah. Jika engkau tidak temukan hatimu di
sana, maka mintalah kepada Allah agar memberimu hati karena sesungguhnya engkau
sudah tak punya hati lagi” (Al-Fawaid 1/148)
Dari pernyataan di atas kita bias
mendapatkan tiga makna yang terkandung, pertama ketika kita mendengarkan kalam
ilahi ingatlah hakikat yang berbicara adalah Allah Swt. Seakan Allah Swt
berkata langsung kepadamu,apakah engkau memperhatikannya atau tidak?. Pantas
jika orang yang mendengarkan lantunan al-qur’an hatinya hadir karena dzat yang
serba maha sedang mengajak berdialog kepadanya.
Kedua ketika engkau ada dimajlis
dzikir (majlis ilmu) hatimu hadir, pantas karena dzikir itu mengingat Allah
Swt, menggugah hati kita agar sadar bahwa ucapan tasbih,tahlil, takbir dan lain
sebagainya termasuk nasihat-nasihat dari sang guru mengajak hati untuk ingat
kepada dzat sang pencipta, sang pemberi, sang petunjuk, dan sang pencerah. Wajar
dan seharusnya ketika ada di majlis dzikir (majlis ilmu) hati ingat kepada-Nya.
Ketiga ketika sedang sendirian bermunajat
kepada-Nya. Berkhalwat merupakan kebiasaan yang dilakaukan para Nabi dan orang-orang
saleh. Nabi Muhammad SAW berkhalwat di Gua Hira tak kurang dari 40 hari
demikian pula Nabi Musa di Bukit Sinai.
Dalam kesendirian ada hati yang
dirundung sunyi,pantaslah bila di sana kita teringat segala macam dosa, noda,
nista dan cela kita. Juga keburukan dan kebobrokan kita, maka hati hadir
bersimbah sujud di hadapan Dzat yang serba maha. Bersimbah pula air mata ini
karena duka yang mendalam atas banyaknya salah dan dosa yang diderita. Maka
hati hadir tatkala kita berkhalwat. Waspadalah jika di tiga tempat tadi hati
kita tidak ada !
Penulis adalah Guru PAI SDN
Cicalengka 08 dan Wakil Katib MWCNU
Rancaekek Kab.Bandung
BODATA
PENULIS
NAMA :
SAEPUDIN, S.Pd.I, M.Pd.I
TTL :
BANDUNG 23-12-1975
ALAMAT :
MARIUK, BOJONGSALAM RANCAEKEK BANDUNG
UNIT KERJA :
SDN CICALENGKA 08 KAB. BANDUNG
Aktifitas Lain : Wakil Katib MWCNU Rancaekek Kab. Bandung
PENDIDIKAN :
S-1 IAI IBRAHIMY SUKOREJO SITUBONDO
JATIM
S-2
UNINUS BANDUNG
ALUMNI PONPES : 1. TARBIYATUN NASYIIN JOMBANG JATIM
2. MA’HAD ALY PONPES SALAFIYAH SYAFIIYAH
SUKOREJO SITUBONDO JATIM
NO REK :
0074045537100 (BANK BJB)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar