Menafsirkan
Lagu Hymne Guru
Mengenang
Sang Pencipta Lagu Hymne Guru
Sartono lahir 29 Mei 1923 dan wafat
1November 2015. Sang penggubah lagu hymne guru,ketika lagu beliau bergema
terutama di peringatan hari guru nasional. Inilah bait syair lagu hymne guru
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku
Sebagai prasasti trima kasihku tuk
pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam
kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda
jasa
Makna terpujilah wahai engkau ibu bapak
guru, guru merupakan profesi yang sangat terpuji, bayangkan di saat dia harus
mendidik dan mengajari anak-anaknya masih mengabdikan waktunya untuk untuk anak
orang lain. Di saat mungkin saja banyak orang-orang yang lupa akan mendidik
anaknya karena sibuknya mereka dengan pekerjaan dan bisnis mereka. Banyak orang
tua yang menyimpan harapan kepada para guru akan masa depan anak-anaknya. Itulah
terpujinya para guru yang telah rela mendermakan ilmu dan waktunya untuk
anak-anak yang lain.
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.
Guru akan selalu tertambat di hati para murid, bukan hanya nama tapi insan-wujud-
guru itu sendiri. Guru mungkin saja lupa
akan nama-nama muridnya. Tapi raut wajah murid biasanya guru tahu. Murid
terlebih lagi akan tahu bahwa itu gurunya walaupun sudah lama di telan
waktu.
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku,
murid yang baik tentu tidak akan melupakan bakti pengetahuan sang guru yang
telah ditumpahkan untuknya. Hati murid laksana sebuah ukiran yang indah akan
bakti gurunya,tak lekang oleh waktu tak hilang oleh zaman.
Sebagai prasasti trimakasihku tuk pengabdianmu,
guru dihati muridnya laksana prasasti yang menjadi kebanggaan sepanjang masa.
Ini dilakukan sebagai rasa terimakasih murid kepada gurunya.
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan, guru
laksana cahaya lampu yang menerangi dari gelapnya pengetahuan. Mulanya tidak
tahu menjadi tahu, asalnya malas menjadi rajin dengan dorongan guru. Kurang
tahu sopan santun menjadi anak yang berakhlak berkat tauladan dari guru. Guru
menyingkap tabir yang menghalangi dari berbagai belenggu dan gangguan.
Engkau laksana embun penyejuk dalam
kehausan, guru menjadikan pikiran murid segar,press. Ketika murid kebingungan
dengan pelajaran, guru datang menyikap tabir kebingungan itu laksana orang yang
haus lalu diberi air minum. Petuah dan masukan dari guru menjadikan murid
menemukan jalan kemana harus melangkah.
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda
jasa, dulu ketika kita dijajah banyak bermunculan pahlawan yang menyelamatkan
dan memperjuangkan bangsa ini. Mereka rela mengorbankan apa saja yang ada pada
mereka. Guru tampil tak ada bedanya dengan para pahlawan. Pahlawan berusaha
menyelamatkan bangsa dari rongrongan
penjajah. Guru tampil menjadi pahlawan pengisi kemerdekaan dengan sekuat jiwa
raga demi kesuksesan siswanya.
Bertaburan tanda jasa bagi para pahlawan nasional.
Pahlawan nasional jumlahnya cukup banyak. Walaupun sebenarnya lebih banyak
pahlawan yang tidak dikenal dan juga tidak diberi tanda jasa. Tanda jasa bagi
guru memang ada namun sedikit guru yang mendapatkan tanda jasa jika
dibandingkan dengan guru yang tidak mendapat tanda jasa. Itupun salah satu
andil Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
Penulis adalah Guru SDN Cicalengka 08
BODATA
PENULIS
NAMA :
SAEPUDIN, S.Pd.I, M.Pd.I
TTL :
BANDUNG 23-12-1975
ALAMAT :
MARIUK, BOJONGSALAM RANCAEKEK BANDUNG
UNIT KERJA :
SDN CICALENGKA 08 KAB. BANDUNG
PENDIDIKAN :
S-1 IAI IBRAHIMY SUKOREJO SITUBONDO
JATIM
S-2
UNINUS BANDUNG
ALUMNI PONPES : 1. TARBIYATUN NASYIIN JOMBANG JATIM
2. MA’HAD ALY PONPES SALAFIYAH SYAFIIYAH SUKOREJO
SITUBONDO JATIM
NO REK :
0074045537100 (BANK BJB)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar