Jumat, 20 Oktober 2023

 

Guru Harus Jadi Benteng Pertama Hoaks.

Hoaks (berita bohong, KBBI) hampir menjadi santapan primer di era millennial ini. Banyak kepentingan yang tersimpan di balik hoaks. Bisa kepentingan politik, ekonomi bahkan mungkin kepentingan pendidikan. Jika di telaah hoaks ini sangat meresahkan semua lapisan masyarakat.

Hoaks pertama yang berhasil dicatat sejarah ditemui pada tahun 1661Masehi. Kasus tersebut adalah soal Drummer of Tedworth, yang berkisah soal John Mompesson --seorang tuan tanah-- yang dihantui oleh suara-suara drum setiap malam di rumahnya.

 

Kata hoaks sendiri baru mulai digunakan sekitar tahun 1808. Kata tersebut dipercaya datang dari hocus yang berarti untuk mengelabui. Kata-kata hocus sendiri merupakan penyingkatan dari hocus pocus, semacam mantra yang kerap digunakan dalam pertunjukan sulap saat akan terjadi sebuah punch line dalam pertunjukan mereka di panggung.

 

Andai saja hoaks ini dipercaya bukan tidak mungkin akan menyebabkan terjadinya perpecahan dari mulai masyarakat kalangan bawah maupun masyarakat kalangan atas. Orang bisa saja langsung simpati atau antipati atas hoaks yang disajikan.

Sudah seyogyanya hoaks ini dijadikan musuh bersama dalam bermasyarakat mulai dari masyarakat terkecil –misalnya keluarga- sampai masyarakat besar seumpama berbangsa dan bernegara.

Penebar hoaks akan dikenakan KUHP, Undang-undang no 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-undang no 40 Tahun 2008 tentang penghapusan driskiminasi ras dan etnis serta tindakan ketika ujaran kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial. Walaupun sanksi hukuman sudah jelas namun tidak membuat jera para penebar hoaks. 

Oleh karena hoaks musuh bersama,guru harus tampil ke depan sebagai palang pintu penjaga penyebar hoaks ini. Sebagaimana maklum guru sebagai orang yang menyampaikan kebenaran dalam iptek dan imtak sudah seharusnya guru menentukan titik kebenarannya yang uptudate, kebenaran yang bertitik tolak atas pengetahuan yang ilmiah.

Keilmuan guru sudah teruji dimulai dari riwayat keilmuan yang tentu menyertai riwayat pendidikan. Keilmuan yang sudah diuji ketika dibangku sekolah atau bangku kuliah. Plus guru sudah menyampaikan ilmu dan kepribadiannya di hadapan anak didiknya masing-masing.

Pantas dan wajar bila guru mampu meredam hoaks yang beredar,minimal guru tidak menjadi penyambung lidah dari hoaks yang datang pada dirinya. Jiwa peredam hoaks suatu keniscayaan yang harus dimiliki guru.

Dalam hal yang lebih jauh guru harus pandai mengklarifikasi- men’tabayyun’- atas hoak yang beredar. Tak wajar dan tak pantas bila guru –yang nota bene keilmuan dan kepribadian mumpuni-itu justru menjadi corong dari hoaks yang beredar.

Penulis yakin kepada guru,andaikata menggunakan disiplin ilmu yang ia miliki akan mampu menjadi benteng pertama agar tidak tersebar hoaks.

Ingat ! air kotor tidak akan terus mengalir mengotori apa saja yang dilaluinya jika kran air ditutup. Demikian pula jika ada kurang lebih 2 juta guru tidak ikut mengupload atau menyebarkan hoaks maka hoaks mungkin tidak akan bersimbah kemana-mana.      

 Penulis adalah Guru  PAI  SDN Cicalengka 08 Kab.Bandung     

 BODATA PENULIS

NAMA                                   : SAEPUDIN, S.Pd.I, M.Pd.I

TTL                                         : BANDUNG 23-12-1975

ALAMAT                               : MARIUK, BOJONGSALAM RANCAEKEK BANDUNG

UNIT KERJA                         : SDN CICALENGKA 08     KAB. BANDUNG

Aktifitas Lain                      : - Wakil Katib MWCNU Rancaekek Kab. Bandung

-          Ketua Forum Kajian Islam dan Sosial (eFKIS) Nurul Amal Bojongsalam Rancaekek

PENDIDIKAN                      : S-1       IAI IBRAHIMY SUKOREJO SITUBONDO JATIM

                                                S-2          UNINUS  BANDUNG

ALUMNI PONPES             : 1. TARBIYATUN NASYIIN JOMBANG JATIM

   2.  MA’HAD ALY PONPES SALAFIYAH SYAFIIYAH SUKOREJO SITUBONDO JATIM

NO REK                                 : 0074045537100  (BANK BJB)

 

 

 

                        

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar